01 June 2013

Mengenang Om Pendeta

Bersembilan kami sore itu berjalan kaki dari sebuah pojok desa Sukamelang di Subang. Kami baru saja menyuntik ayam dan bebek penduduk. Salah satu dari anggota kelompok kami yang turut dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) itu, berasal dari Fakultas Peternakan. Maka jadilah kami dimintanya turut membantu. Kami pun ikut menangkapi dan memegangi ayam dan bebek untuk disuntik.


Beberapa puluh meter lagi menjelang rumah Pak Lurah tempat kami para mahasiswa UNPAD diinapkan, dari kejauhan aku melihat ada mobil kijang terparkir di halaman. Kami bersembilan mulai berspekulasi, siapa lagi tamu yang datang ini. Pasti salah satu keluarga kami yang KKN ini. Ada rasa gembira. Biasanya keluarga-keluarga itu pasti bawa oleh-oleh. Berarti lauk-pauk kami pasti akan lebih enak malam ini.

Makin dekat ke rumah, makin banyak dugaan-dugaan kami tentang siapa yang datang. Ada yang membayangkan itu pasti keluarga Tatang, mahasiswa asal Bandung yang jika ayah, ibu dan adik-adiknya berkunjung, pasti mengusung segerobak bingkisan berisi colenak dan ayam goreng. Ada juga yang menduga, itu keluarga Titin dari Sumedang. Mungkin mereka akan bawa tahu, peyeum dan empal yang lebar-lebar setelapak tangan.

Tetapi makin dekat kami ke rumah Pak Lurah, makin jelas bahwa yang datang itu kelihatannya jauh dari tebakan kami semua. Kijang yang terparkir itu makin terlihat bututnya. Sebagian catnya sudah mengelupas. Bempernya juga seperti terluka dimana-mana. Dan, yang pasti, disamping mobil itu kini berdiri dua orang pria. Yang satu pendek, yang satu berukuran sedang. Tak salah lagi. Itu bapak dan pamanku.

Aku tak kuasa lagi untuk tidak gemetar, berlari mendekat dan berteriak tertahan. "Bapaaa..........Tulang........"

Ya, yang di sana itu, yang bertamu ke rumah Pak Lurah itu, ternyata ayah dan pamanku. Mereka baru saja melangsungkan Muktamar (Sinode Bolon) Gereja Kristen Protestan (GKPS) di Bogor. Ayahku menjadi utusan dari gereja kami di kampung. Pamanku yang pendeta juga turut. Dan tampaknya mereka berpikir, tak elok bila mereka mengunjungi pulau Jawa, tapi tak menyempatkan menjengukku.

Mula-mula mereka datang ke Bandung, melongok ke asrama. Tapi karena teman-teman memberitahua bahwa aku sedang KKN di Sumedang, mereka tak kehabisan akal. Mereka sewa sebuah Kijang carteran, dan sampai juga mereka ke Sukamelang, desa kecil seukuran Sarimatondang, setelah bertanya kesana-kemari dengan bantuan Pak Supir.

Sore itu, terus terang, terjadi sedikit kegemparan pada kami, para mahasiswa yang tinggal di rumah Pak Lurah itu. Pertama, mereka gempar, karena kaget. Mereka sama sekali tak terpikir bahwa ada orang Batak yang diberi julukan 'Tulang.' Mereka terpingkal-pingkal terus setiap kali aku menyapa pamanku dengan 'Tulang.' Merah juga kuping sebentar, pamanku disamakan dengan cemilan gukguk. Tapi apa daya, memang itulah Bahasa Batak.

Kedua, sore itu lebih gempar lagi karena inilah kunjungan keluarga terjauh yang pernah datang ke rumah Pak Lurah. Dari Bandung, dari Sumedang, dari Jakarta, dari Yogya, memang sudah ada yang datang. Tapi dari Sumatera Utara, tak pernah ada yang terpikir, dan kini kenyataan. Banyak duit rupanya keluarga si Eben ini, ada yang berkata begitu.

"Apa kerja ayah dan pamanmu itu?" tanya istri Pak Lurah.

"Berapa ratus hektar tanah kalian di Sumatera?" tanya Pak Lurah.

"Ternyata kamu selama ini merendah ya, sampai beli sendal pun harus minjem," kata Dewi, yang mahasiswi Psikologi.

Aku hanya bisa tersenyum. Kalau hanya karena kedatangan ayah dan paman ini mereka menyangkaku orang berpunya, itu kuanggap berkah. Aku sendiri masih belum dapat menghilangkan rasa terkejut bagaimana mungkin ayah dan pamanku sampai ke Sukamelang. Yang aku tahu adalah, sore itu ayah dan paman cukup percaya diri membagi-bagikan oleh-oleh berupa kerupuk-kerupuk kecil dan roti tawar yang mungkin mereka beli di pedagang kaki lima sepanjang jalan. Teman-temanku tertawa penuh arti menerima oleh-oleh itu.
Sekarang, setiap ingat desa Sukamelang itu, aku teringat lagi keajaiban kecil itu. Paman yang menjengukku ke Sukamelang itu kini sudah bermukim di haribaan Bapa di Surga. Tapi keajaiban di Sukamelang itu tak pernah terlupa.

No comments:

Post a Comment