Pada 24 Januari lalu di gereja kami diteguhkan tiga orang penatua.
Dua di antaranya adalah penatua yang diteguhkan untuk masa pelayanan (3
tahun) kedua, sedangkan satu lagi, untuk masa pelayanan (3 tahun)
pertama. Mereka adalah Pnt Emanuel Marina, Pnt Wahyu Kristianti Raharjo
Putri dan Pnt Effi Kurnia.
Bersamaan dengan itu, dua penatua
menyelesaikan pula masa pelayanan kedua mereka. Mereka adalah Pnt Juli
Boeky dan Pnt Ruth M. Tangaran. Sesuai dengan tata gereja, mereka yang
sudah menjalani masa pelayanan dua periode berturut-turut, tidak lagi
dapat dicalonkan dan diteguhkan menjadi anggota majelis jemaat pada
periode berikutnya.
Showing posts with label Kepemimpinan. Show all posts
Showing posts with label Kepemimpinan. Show all posts
26 January 2016
14 November 2015
Berlatih Lektor Sambil Menyetrika

Tadi pagi Irna Kurniarini Siadari kembali mendapat giliran menjadi petugas lektor I. Ia bertugas membacakan I Samuel 4-20 yang menjadi bacaan pertama pada ibadah Minggu itu.
Bacaan lainnya adalah Ibrani 10:1-25 dibacakan oleh Pnt Meilina Manurung, dan Markus 13:1-8 dibacakan oleh Pdt Yerusa Maria Agustini yang juga berkhotbah. Sedangkan Mazmur tanggapan kali ini tidak diambil dari Mazmur, melainkan memakai doa Hana pada 1 Samuel 2:1-10. Yang bertugas membacakannya Ibu Effi Kurnia.
Bertugas sebagai lektor bagiku sering menghadirkan ketegangan tersendiri. Takut salah, takut tak jelas, takut tak terdengar dan banyak takut-takut lainnya. Walaupun sudah pernah mengikuti pembinaan/pelatihan lektor, tetap saja ada rasa dagdigdug itu. Apalagi bila menyadari, cara membaca kita sedikit banyak akan turut juga mempengaruhi mood para pendengar.
01 November 2015
Ukuran Sukses Gereja
Gereja
adalah sebuah komunitas spiritual. Yaitu kumpulan orang-orang yang
secara sukarela bergabung dengan komitmen yang mendalam untuk memelihara
keintiman dengan Tuhan. Orang-orang yang menjadi anggota komunitas
spiritual itu menjadikan Tuhan pusat pertimbangan dalam menjalani
kehidupan sehari-hari dan dalam mengambil keputusan. Bahkan terus ingin
berjumpa dengan Tuhan serta dengan penuh rasa takjub atas
intervensi-Nya.
Ukuran keberhasilan gereja ditentukan oleh dampak spiritualitasnya. Gereja berhasil bila semakin banyak warganya merasakan keintiman hubungan dengan Allah yang mencipta, menebus dan menghiburnya. Pada sisi lainnya gereja berhasil bila dampak dari hidup spiritual atau keintiman tadi terasa oleh orang-orang di luar lingkungannya.
Jadi ukuran sukses gereja bukan karena ukuran jumlah warganya, kemegahan gedungnya, atau besarnya dana yang dimiliki dalam tabungan mereka.
Ukuran keberhasilan gereja ditentukan oleh dampak spiritualitasnya. Gereja berhasil bila semakin banyak warganya merasakan keintiman hubungan dengan Allah yang mencipta, menebus dan menghiburnya. Pada sisi lainnya gereja berhasil bila dampak dari hidup spiritual atau keintiman tadi terasa oleh orang-orang di luar lingkungannya.
Jadi ukuran sukses gereja bukan karena ukuran jumlah warganya, kemegahan gedungnya, atau besarnya dana yang dimiliki dalam tabungan mereka.
30 August 2015
Presbiterial Sinodal
Berbicara tentang Presbiterial Sinodal, berarti kita membicarakan sistem organisasi gereja. Pada dasarnya, terdapat empa sistem pengorganisasian gereja yaitu:
1. Sistem Presbiterial, dimana geerja dipimpin oleh para presbiter (penatua). keputusan tertinggi ada pada persidangan presbiter (majelis jemaat).
2. Sistem Sinodal, dimana gereja dipimpin oleh persidangan para pejabat gerejawi yang disebut sinode. Persidangan sinode ini merupakan instansi tertinggi yang keputusannya harus dilaksanakan oleh jemaat-jemaat yang tergabung dalam sinode tersebut.
28 August 2015
Menulis Khotbah
Bagi sebagian orang menulis khotbah mungkin menyenangkan. Bagi sebagian lagi sangat menjemukan. Ia jadi menjemukan apabila mebayangkan bahwa khotbah yang sudah kita tulis dengan susah-payah itu, tidak mungkin akan kita bacakan kata demi kata. Bagaimana mungkin berkhotbah dengan membaca teks? Itu sama saja dengan Presiden Soeharto membacakan pidato mengantarkan RAPBN. Kalau tidak karena terpaksa, pendengarnya pasti sudah lama meninggalkan ruangan.
Tetapi walaupun kita tidak akan membacakannya, adalah penting menuliskan khotbah yang akan kita khotbahkan kata demi kata. Ada banyak gunanya, dan aku dapat mengatakan, seharusnya ia menjadi salah satu proses wajib dalam persiapan kita dalam berkhotbah. Menulis khotbah menjadi langkah awal dalam upaya kita menyusunnya, mendalaminya untuk kemudian menyampaikannya lalu kemudian mengundang jemaat memberikan respon.
Tetapi walaupun kita tidak akan membacakannya, adalah penting menuliskan khotbah yang akan kita khotbahkan kata demi kata. Ada banyak gunanya, dan aku dapat mengatakan, seharusnya ia menjadi salah satu proses wajib dalam persiapan kita dalam berkhotbah. Menulis khotbah menjadi langkah awal dalam upaya kita menyusunnya, mendalaminya untuk kemudian menyampaikannya lalu kemudian mengundang jemaat memberikan respon.
26 July 2015
Tujuan Bergereja
Sewaktu Persidangan Majelis Jemaat (PMJ) tadi siang, Pnt Marino dan kawan-kawan membawakan kami para koleganya ole-oleh dari Persidangan Majelis Klasis Jakarta Dua (Kajadu). Olle-ole itu sangat berharga, menurutku, yaitu sebuah makalah yang ditulis oleh Pdt Wisnu Sapto Nugroho dari Lembaga Pembinaan dan Pengaderan Sinode (LPPS) GKJ-GKI SW Jateng. Judulnya ialah Gereja yang Apresiatif.
Istilah Gereja yang Apresiatif ini belakangan ini memang sedang tren. Intinya, kalau aku tak salah, perubahan paradigma pendekatan dari yang sebelumnya Strenght, Weakness, Opportunty, Threat (SWOT) menjadi Strength, Opportunity, Aspirations, Result (SOAR). Melalui pendekatan SOAR, kita tidak menekankan dan larut pada memperbaiki apa yang kita anggap weakness, tetapi justru berfokus pada hal-hal yang patut diapresiasi yang ada pada jemaat. Karena itu penting untuk menggali aspirasi jemaat.
Istilah Gereja yang Apresiatif ini belakangan ini memang sedang tren. Intinya, kalau aku tak salah, perubahan paradigma pendekatan dari yang sebelumnya Strenght, Weakness, Opportunty, Threat (SWOT) menjadi Strength, Opportunity, Aspirations, Result (SOAR). Melalui pendekatan SOAR, kita tidak menekankan dan larut pada memperbaiki apa yang kita anggap weakness, tetapi justru berfokus pada hal-hal yang patut diapresiasi yang ada pada jemaat. Karena itu penting untuk menggali aspirasi jemaat.
19 April 2015
Melihat Visi Tuhan (II)
Kita perlu mengerti visi Tuhan dalam hidup maupun dalam kepemimpinan dalam pelayanan kita George Barna dalam bukunya A Fish out of Water, 9 Strategi untuk Memaksimalkan Potensi Kepemimpinan yang Tuhan Berikan kepada Anda, mengemukakan ada ada empat proses yang cukup sederhana, tetapi merupakan cara-cara yang lazim dipakai oleh para pemimpin yang saleh dan efektif. Dua diantaranya sudah dikemukakan minggu lalu dan dua berikutnya dipaparkan berikut ini.
12 April 2015
Melihat Visi Tuhan (I)
George Barna dalam bukunya A Fish out of Water, 9 Strategi untuk Memaksimalkan Potensi Kepemimpinan yang Tuhan Berikan kepada Anda, mengemukakan ada ada empat proses yang cukup sederhana, tetapi merupakan cara-cara yang lazim dipakai oleh para pemimpin yang saleh dan efektif untuk melihat dan mengetahui Visi Tuhan bagi dirinya dan bagi umat yang dipimpinnya. Dua diantaranya dikemukakan di sini, dan dua berikutnya Minggu depan.
• Mengenali Diri Kita dengan Baik
Sebelum Tuhan dapat menggunakan kita sebagai seorang pemimpin, kita harus memahami kekuatan dan kelemahan kita, karunia dan kemampuan kita. Pengetahuan tentang diri sendiri akan memberi kita pandangan yang realistis --dan menarik kita kepada Tuhan untuk mendapat kekuatan dan pengajaran.
Langkah ini akan membuat kita mengenal ketidaklayakan kita dan membuat kita takut dan percaya kerpada-Nya. Jika kita jujur mengakui siapa kita sebenarnya dan apa yang dapat kita lakukan, seharusnya itu akan menyebabkan kita menyadari bahwa kita tidak cocok menjadi pemimpin yang dipilih sang Raja. Hanya karena kemurahan-Nya semata kita diizinkan untuk memimpin umat-Nya.
Untuk dapat sampai pada pandangan pribadi seperti ini ada banyak alat yang mungkin dapat menolong. Pengamatan atas karakter, percakapan dengan teman-teman yang dapat dipercaya, dan yang tidak kalah penting: doa, dapat mengungkapkannya.
• Mengenali Konteks Kepemimpinan Kita
Untuk memiliki pandangan ini, kita memerlukan waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah kita. Bicaralah dengan orang-orang yang kita harapkan untuk kita pimpin supaya mereka tahu apa yang sedang Tuhan nyatakan kepada mereka. Pahamilah sejarah organisasi yang akan kita pimpin, sehingga dapat membangun jembatan dari masa lalu dan masa kini ke masa depan yang ditahbiskan oleh Tuhan. Analisislah komunitas yang akan kita pimpin, untuk mengerti perilaku, nilai-nilai, pola dan gaya hidup spiritual mereka. Bicaralah dengan pemimpin-pemimpin lain yang terlibat untuk mempelajari apa yang sedang mereka lakukan dan kemana mereka berusaha keras untuk membawa orang-orang itu.
(Disajikan pada Seri Pembinaan Warta Jemaat GKI Sarua Indah edisi 12 April 2015, dikutip dari A Fish out of Water, 9 Strategi untuk Memaksimalkan Potensi Kepemimpinan yang Tuhan Berikan Kepada Anda, ditulis oleh George Barna, pendiri dan presiden Barna Research Group, California, pembicara pada konferensi-konferensi pelayanan dan kepemimpinan di seluruh dunia. Edisi Bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Penerbit Immanuel, 2004.)
• Mengenali Diri Kita dengan Baik
Sebelum Tuhan dapat menggunakan kita sebagai seorang pemimpin, kita harus memahami kekuatan dan kelemahan kita, karunia dan kemampuan kita. Pengetahuan tentang diri sendiri akan memberi kita pandangan yang realistis --dan menarik kita kepada Tuhan untuk mendapat kekuatan dan pengajaran.
Langkah ini akan membuat kita mengenal ketidaklayakan kita dan membuat kita takut dan percaya kerpada-Nya. Jika kita jujur mengakui siapa kita sebenarnya dan apa yang dapat kita lakukan, seharusnya itu akan menyebabkan kita menyadari bahwa kita tidak cocok menjadi pemimpin yang dipilih sang Raja. Hanya karena kemurahan-Nya semata kita diizinkan untuk memimpin umat-Nya.
Untuk dapat sampai pada pandangan pribadi seperti ini ada banyak alat yang mungkin dapat menolong. Pengamatan atas karakter, percakapan dengan teman-teman yang dapat dipercaya, dan yang tidak kalah penting: doa, dapat mengungkapkannya.
• Mengenali Konteks Kepemimpinan Kita
Untuk memiliki pandangan ini, kita memerlukan waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah kita. Bicaralah dengan orang-orang yang kita harapkan untuk kita pimpin supaya mereka tahu apa yang sedang Tuhan nyatakan kepada mereka. Pahamilah sejarah organisasi yang akan kita pimpin, sehingga dapat membangun jembatan dari masa lalu dan masa kini ke masa depan yang ditahbiskan oleh Tuhan. Analisislah komunitas yang akan kita pimpin, untuk mengerti perilaku, nilai-nilai, pola dan gaya hidup spiritual mereka. Bicaralah dengan pemimpin-pemimpin lain yang terlibat untuk mempelajari apa yang sedang mereka lakukan dan kemana mereka berusaha keras untuk membawa orang-orang itu.
(Disajikan pada Seri Pembinaan Warta Jemaat GKI Sarua Indah edisi 12 April 2015, dikutip dari A Fish out of Water, 9 Strategi untuk Memaksimalkan Potensi Kepemimpinan yang Tuhan Berikan Kepada Anda, ditulis oleh George Barna, pendiri dan presiden Barna Research Group, California, pembicara pada konferensi-konferensi pelayanan dan kepemimpinan di seluruh dunia. Edisi Bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Penerbit Immanuel, 2004.)
31 August 2014
Tentang Katekisasi
![]() |
| Bersama katekisan GKISI 2014 |
Dalam Perjanjian Baru, antara lain pada Lukas 1:4; Kisah Para Rasul 18:25, 21:21, 24; Roma 2:17-18,1; Korintus 14-19 ; dan Galatia 6:6, kita mendapati pengertian Katekhein sebagai suatu pengajaran yang tidak hanya menekankan pemahaman intelektualitas belaka, melainkan lebih dalam lagi kepada pemahaman praktis. Lewat katekisasi peserta dibimbing supaya melakukan apa yang diajarkan kepadanya.
24 August 2014
Sikap Gereja Lawan Korupsi
![]() |
| Bersama Pdt A.A. Yewangoe, Ketua Umum PGI 2004-2014 |
17 August 2014
Blusukan Seperti Yesus
Kehadiran pengerja gereja yang blusukan nampaknya sangat dirindukan. Anggota jemaat mendapat wadah dan kesempatan untuk menyampaikan semua pergumulan hidup yang dihadapi sekaligus mendapat ‘siraman rohani.’ Kehadiran secara ‘fisik’ tentu saja berbeda nilainya dengan sekadar ‘kehadiran suara’ melalui alat telekomunikasi. Dengan blusukan, pengerja gereja memiliki wadah untuk melihat langsung dan terlibat dalam meneguhkan iman dan pengharapan umat yang dilayaninya.
12 August 2014
Salam Kolegialitas kepada Bapa
Setelah tiga hari di perjalanan akhirnya tiba juga beberapa helai
kaus berlogo GKI Sarua Indah di kampung halaman, Sarimatondang.
Kaus-kaus itu aku kirimkan via pos. Ketika melalui telepon bapa
mengabarkan bahwa kiriman itu sudah sampai, aku minta kepadanya agar
apabila mereka memakainya, tolong difoto. Dan bapa menyetujuinya. Itulah
foto yang ada di sebelah kiri dibawah ini.
12 July 2014
Utusan ke Sidang Majelis Klasis
Bertambah lagi satu kaus seragamku. Sejak kemarin pagi hingga tadi
siang, GKI Jateng Klasis Jakarta II mengadakan Persidangan Majelis
Klasis di Hotel Santika Premiere, Bintaro, Jakarta. Dipimpin oleh Pdt
Yerusa Maria, aku dan empat penatua lainnya, menjadi utusan gereja kami,
GKI Sarua Indah, ke persidangan ini. Dan, panitia membagikan kaus
seragam untuk kami pakai selama persidangan pada hari kedua.
08 June 2014
Pelawat yang Baik
Banyak cerita kesaksian tentang peristiwa pertobatan yang dimulai melalui pelawatan, teguran atau perhatian orang lain. Itu tidak mengherankan karena pada kenyataannya banyak orang bahkan semua kita, membutuhkan kasih Tuhan. Oleh karena itu pelayanan pelawatan sangat penting dan mulia.
23 February 2014
Dasi Warisan
berfoto tadi pagi, seusai bertugas sebagai majelis pendamping bagi pdt benget tambunan dari gki
ampera yang melayankan ibadah di gereja kami, dan seusai ibadah aku mendampingi beliau bersalam-salaman dengan
anggota jemaat.
15 February 2014
Pengkhotbah Remaja
sejak kemarin hingga tadi siang, tim kami dari gki sarua indah berada
di 3 g resort, gadog, puncak jawa barat. kami berempat mengikuti
lokakarya pengkhotbah awam (non teologia) remaja yang diselenggarakan
gki klasis jakarta ii. ada 10 jemaat gki yang mengirimkan utusan dalam
lokakarya ini.
30 January 2014
Penatua: Penat dan Tua
setelah diteguhkan pada hari minggu kemarin, kami para penatua baru
tak boleh pulang seusai ibadah. persidangan majelis jemaat (pmj) sudah
dijadwalkan pada hari itu, sebagaimana lazimnya setiap hari minggu
keempat setiap bulan di gki sarua indah. maka kami pun turut
bergabung,sebagai new kids on the block, duduk mengelilingi meja persegi
di ruang sekretariat.
pada saat rapat, ibu pendeta membagikan kepada kami, masing-masing sebuah buku bersampul kuning, dengan judul, "catatan seorang penatua, penatua bukan penat dan tua.' buku ini merupakan catatan ringan dari wrini harlindi, perempuan kelahiran tahun 1970 tentang pengalamannya sebagai penatua di gkj bekasi timur.
pada saat rapat, ibu pendeta membagikan kepada kami, masing-masing sebuah buku bersampul kuning, dengan judul, "catatan seorang penatua, penatua bukan penat dan tua.' buku ini merupakan catatan ringan dari wrini harlindi, perempuan kelahiran tahun 1970 tentang pengalamannya sebagai penatua di gkj bekasi timur.
29 January 2014
Tradisi Berkata-kata
'mandok hata' dalam bahasa batak toba artinya menyampaikan sesuatu
melalui kata-kata, entah itu sebagai ucapan terimakasih, sambutan,
nasihat dan sejenisnya. mandok hata sudah menjadi tradisi dalam hajatan
keluarga, sebesar atau sekecil apa pun hajatan itu. semua kerabat
diundang untuk 'mandok hata.'
16 December 2013
Pendeta Menyamar
Dua
foto ini adalah foto orang yg sama. Namanya David Musselman, pendeta
gereja Mormon di Utah, AS. Dia punya ide unik utk perayaan Thanksgiving
Day di gerejanya. Ia menyewa seorang ahli make-up untuk mempermak wajah
dan penampilannya sehingga ia seperti gelandangan miskin (foto kanan).
Subscribe to:
Posts (Atom)








