03 August 2014

Bersalaman di Gereja

Kemungkinan besar Salaman atau Bersalaman berakar dari Bahasa Yunani yang artinya damai atau yang serupa dengan kata Shalom (Ibrani) yang berarti sejahtera. Orang Indonesia mungkin menyerap kata dasar Salam dari Bahasa Arab, dengan menambah akhiran an menjadi Salaman yaitu kegiatan saling salam.
Berjabat tangan merupakan bentuk salam dalam gerakan. Sama dengan mengangguk atau melambai. Kalau secara verbal, mungkin seperti berkata Hai, Hallo, Apa Kabar?. Selain itu ada banyak makna bersalaman, seperti mempererat hubungan persaudaraan, meminta maaf, perkenalan, berterimakasih, kesepakatan bisnis, ucapan kebahagiaan, penghormatan kepada yang lebih tua, saling mendoakan dll.

Bersalaman adalah aktivitas bersentuhan yang sehat dan menenangkan. Bersalaman dapat merangsang perasaan untuk menanggapinya melalui pengaruh positif yang ditimbulkan melalui sentuhan terhadap sistem syaraf oleh kualitas frekuensi sentuhan.

Di Alkitab, jabat tangan memiliki dua arti. Pertama, jabat tangan menjadi tanda peneguhan atau sesuatu yang serius. Dalam Kitab Yehezkiel 17:18 dinyatakan, “Ya, ia memandang ringan kepada sumpah dan mengingkari perjanjian. Sungguh walaupun ia menyungguhkan hal itu dengan berjabat tangan, tetapi ia melanggar semuanya itu, maka ia tidak dapat luput.”

Dikisahkan bahwa Raja Zedekia salah seorangr raja Israel yang telah terikat dengan perjanjian Sinai antara Tuhan dengan umatNya menjadi tidak patuh pada Allah. Dalam kitab tersebut, jabat tangan menjadi tanda peneguhan akan suatu perjanjian yang dibuat.

Kedua, jabat tangan menjadi tanda persekutuan atau persahabatan.
Dalam Galatia 2:9, dinyatakan “Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan denganku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka  kepada orang-orang yang bersunat.”

Bersalaman dari Hati
Jabat tangan juga menjadi tradisi yang dilakukan umat Kristen sebagai Salam Damai. Bahkan di GKI, dalam satu hari Minggu tiap anggota jemaat bisa bersalaman berkali-kali sejak sebelum sampai sesudah ibadah. Dan itu baik.

Dalam sebuah artikel menarik, Majalah Pelangi GKI Serpong (edisi Juni-Agustus 2014), memberikan tips bersalaman yang baik dan sungguh-sungguh, atau disebut sebagai Bersalaman dari Hati. 

Pertama, peliharalah kontak mata dengan orang yang kita salami. Dengan demikian ungkapan yang kita sampaikan bukan hanya dari genggaman tangan dan ucapan dari mulut tetapi juga ditunjukkan dengan tatapan mata.

Kedua, bersalamanlah dengan genggaman tangan yang penuh untuk menunjukkan kesungguhan dan antusiasme.

Ketiga, bersalamanlah dengan jarak yang cukup dekat untuk menunjukkan keterbukaan dan keakraban. (*)

(Disajikan pada Seri Pembinaan Warta Jemaat GKI Sarua Indah, 3 Agustus 2014. Dikutip dari artikel Sudahkah Bersalaman dengan Sepenuh Hati, Majalah Pelangi GKI Serpong, edisi Juni-Agustus 2014, hal 64-65)

No comments:

Post a Comment